Pecahnya Superkontinen Pangaea dan Pembentukan Benua Modern
Bumi yang kita tempati terdiri atas berbagai macam bentang alam, mulai dari pegunungan hingga lautan. Gunung-gunung yang menjulang tinggi terbentuk akibat tumbukan lempeng-lempeng bumi yang terjadi pada zaman dahulu. Lautan, kepulauan, dan benua yang ada saat ini merupakan hasil pergerakan lempeng bumi berjuta-juta tahun yang lalu, sehingga dapat dikatakan bahwa bumi ini tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan terus terjadi pergerakan pada lempeng-lempengnya. Dalam sejarah pembentukan bumi, dahulu hanya ada satu benua besar di bumi yang disebut dengan Pangaea yang dikelilingi oleh samudera luas yang disebut Panthalassa.
Benua Pangaea
Pangaea merupakan superbenua yang terbentuk sekitar 300 juta tahun yang lalu dan mulai pecah sekitar 180 juta tahun yang lalu. Terbelahnya Pangaea terjadi ketika dominasi Dinosaurus di muka bumi. Nama Pangaea berasal dari bahasa Yunani yakni Pan (seluruh) dan Gaia (bumi). Nama itu pertama kali diajukan oleh Alfred Wagener tahun 1927 dalam bukunya yang berjudul The Origin of Continents and Oceans, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1915.
Benua Pangaea kemudian mulai terpecah pada awal Periode Jurassic menjadi dua daratan besar yaitu Gondwana dan Laurasia yang dipisahkan oleh laut sempit bernama laut Tethys. Gondwana merupakan pecahan Pangaea yang terletak di bumi selatan dan merupakan cikal-bakal dari benua Afrika, Amerika Selatan, India, Australia, Papua, dan Antartika. Sedangkan Laurasia terletak di bumi bagian utara dan merupakan cikal-bakal dari benua Eropa, Amerika Utara, dan Asia.
Gondwanaland
Sekitar 180 juta tahun yang lalu, Gondwana mulai terpecah menjadi daratan-daratan terpisah yang ada saat ini. Pada sekitar 140 juta tahun yang lalu, tepatnya pada awal Periode Cretaceous, gabungan Afrika dan Amerika Selatan berpisah dari gabungan Australasia, India, dan Antartika. Ketika itu Dinosaurus masih berkeliaran di bumi, iklim bumi semakin hangat dan permukaan air laut lebih tinggi, tanaman berbunga (Angiospermae) juga pertama kali muncul pada zaman ini.
Pada sekitar 100 hingga 90 juta tahun yang lalu, benua Afrika dan pulau Madagaskar mulai terpisah dan daratan India mulai bergerak ke utara menumbuk lempeng Eurasia. Tumbukan ini mengakibatkan timbulnya sebuah bentang alam yaitu Pegunungan Himalaya. Australia juga mulai terpisah dari Antartika. Ketika itu, Dinosaurus masih ada namun sedang menuju kepunahannya.
Sekitar 65 juta tahun yang lalu, pada awal Periode Paleogen, Dinosaurus punah dan Ratites (nenek moyang burung terrestrial) berevolusi secara terpisah menghasilkan Kasuari, Ostrich, Emu, dan Kiwi. Kemudian sekitar 50 juta tahun yang lalu, Mamalia muncul dan mendominasi kehidupan di bumi. Hutan hujan tropis mulai berkembang dengan beberapa vegetasi tanaman berbunga seperti Eukaliptus, Grevillea, dan Banksias.
Pada sekitar 40 juta tahun yang lalu, benua-benua mulai membentuk posisi seperti saat ini. Kemudian pada 33 juta tahun yang lalu, pulau Tasmania mulai terpisah dari Antartika. Antartika menjadi lebih dingin sedangkan Australia menjadi lebih kering. Sekitar 50 juta tahun yang lalu, burung bersuara merdu berevolusi dan mulai menyebar ke seluruh dunia. Marsupial (Mamalia berkantung) mulai berkembang dari nenek moyang Possum. Pada sekitar 20 sampai 15 juta tahun yang lalu, Australia dan New Guinea menabrak lempeng Asia sehingga beberapa hewan dan tumbuhan dapat terdistribusi antar benua.
Zaman Es terakhir
Periode Glasial terakhir atau zaman es terakhir terjadi sekitar 110.000 sampai 11.600 tahun yang lalu ketika akhir Kala Pleistosen. Para ilmuwan menganggap zaman es ini sebagai kejadian glasial terbaru dalam rangkaian zaman es yang lebih panjang, yang dimulai lebih dari 2 juta tahun yang lalu dan telah mengalami beberapa kali glasiasi. Glasiasi terluas pada era glasial terakhir terjadi sekitar 21.000 tahun yang lalu.
Dari sudut pandang Arkeologi, periode tersebut termasuk ke dalam zaman Paleolitikum dan Mesolitikum. Saat peristiwa glasiasi dimulai, Homo sapiens hanya terdapat di Afrika dan menggunakan peralatan yang sebanding dengan peralatan yang digunakan oleh manusia Neanderthal di Eropa, serta Levant dan Homo erectus di Asia. Menjelang akhir peristiwa tersebut, Homo sapiens menyebar ke Eropa, Asia, dan Australia. Periode pasca glasial memungkinkan kelompok Asia untuk bermigrasi ke Amerika.
Sundalandia
Sundaland merupakan kawasan biogeografis Asia Tenggara yang merupakan gabungan dari semenanjung Malaya, Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Paparan Sunda merupakan jembatan darat yang menghubungkan Asia dengan Asia Tenggara, hal ini menyebabkan banyak fauna dari Asia tersebar luas di Asia tenggara seperti Mamalia plasenta berukuran besar. Di saat yang bersamaan, pulau Papua juga bersatu dengan benua Australia yang disebut dengan Sahulland. Hal ini juga menyebabkan fauna Australasia juga terdistribusi di Papua. Terbentuknya Sundaland dan Sahulland merupakan penyebab dicetuskannya garis imajiner Wallacea dan Weber yang membagi Indonesia menjadi tiga kawasan besar, yaitu Oriental, Wallacea, dan Australasia yang didasarkan pada distribusi flora dan faunanya.
Sundalandia merupakan daerah terbesar yang tenggelam setelah Zaman Es Terakhir saat gletser mulai mundur sekitar 19.000 tahun yang lalu, dan menaikkan permukaan air laut lebih dari 120 meter. Hal ini menyebabkan terbentuknya laut Tiongkok dan laut Jawa, selat Bali terbuka sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang menghubungkan laut Jawa dengan samudera Hindia. Laut Tiongkok selatan terhubung dengan laut Jawa sekitar 9.000 tahun yang lalu, yang memisahkan pulau Kalimantan dan Jawa dari daratan Sunda. Selat Malaka terbuka sekitar 8.000 tahun yang lalu, yang menghubungkan laut Tiongkok selatan dengan samudera Hindia dan memisahkan Sumatera dari Semenanjung Malaya.
Tenggelamnya sundaland diyakini disebabakan oleh mencairnya lapisan es di Amerika Utara dan Antartika, yang menyebabkan hilangnya lahan-lahan pantai tropis Asia tenggara dengan landas kontinen yang rata.Daftar Pustaka :
Adisoemartono., S. 2006. Penerapan dan Pendayagunaan Taksonomi Untuk Mendayagunakan Fauna Daerah. Jurnal Fauna Tropika. 15 (2). : 87.
Irwanto., D. Tenggelamnya Sundalandia dan Penelusuran Cikal Bakalnya Peradaban. Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan III Universitas Trunojoyo Madura, 7 September 2017.
Torsvik., T.H, and Van der Voo, R. 2002. Refining Gondwana Paleography : Estimates of Phanerozoic Non-Dipol Fields. Journal of International Geophysic. 151 : 771.
Wang., C, Mitchell., R, Murphy., J.B, Peng., P, and Spencer., C. 2021. The Role of Megacontinents in Supercontinents Cycle. The Geological Society of Amerika. 49 (40) : 402.

Komentar
Posting Komentar