Mengapa Predator Sekuat Hiu Megalodon Dapat Punah ?
Megalodon merupakan spesies hiu purba yang sudah punah dan diperkirakan hidup 23 hingga 2,6 juta tahun yang lalu. Spesies hiu ini hidup pada kala Miosen Awal hingga kala Pliosen Akhir pada Periode Neogen. Hewan ini berkerabat dekat dengan Hiu Putih Besar yang hidup saat ini.
Kebanyakan orang mungkin pernah mendengar tentang Hiu Megalodon (Carcharocles megalodon), hiu prasejarah raksasa yang namanya berarti gigi besar. Hewan ini terkenal karena ukurannya yang mencapai panjang hingga 18 meter (59 kaki), Megalodon telah ditampilkan dalam berbagai karya fiksi seperti film dan novel.
Hewan ini merupakan monster laut klasik, yang memberikan ketakutan kepada manusia karena ukurannya yang sangat besar dan gigi giginya yang tajam, dan beberapa orang percaya bahwa hewan ini masih hidup dan berkeliaran di lautan dalam yang jarang dijamah manusia. Namun, anggapan itu sangat tidak mungkin karena sejauh yang ahli Paleontologi ketahui, hewan ini telah punah sekitar 2,6 juta tahun yang lalu. Alasan kepunahan ikan besar ini masih belum jelas.
Fosil paling umum dari Megalodon dan dari berbagai jenis fosil hiu lainnya adalah giginya. Hal itu dikarenakan hiu termasuk dalam kelompok ikan yang memiliki kerangka dari tulang rawan dan bukan tulang sejati, yaitu Kelas Chondrichthyes (ikan bertulang rawan) yang juga beranggotakan ikan pari, ikan hiu keseluruhan, dan ikan Chimera. Tubuh mereka sebagian besar didukung oleh tulang rawan dan bukan tulang sejati, sehingga membuat mereka sangat ringan namun kuat.
Ini menunjukkan bahwa kerangka mereka membusuk lebih cepat, karena tulang rawan kurang tahan terhadap pembusukan. Disisi lain, gigi mereka terbuat dari zat yang disebut dengan Dentin, yaitu zat yang bahkan lebih keras dari tulang sejati, oleh karena itu gigi mereka lebih tahan terhadap pembusukan, sehingga fosil hiu kebanyakan dan termasuk Megalodon hanya dapat ditemukan giginya saja.
Baca Juga : Meganeuropsis, Serangga Raksasa Penguasa Langit Permian
Fosil gigi dari Megalodon telah ditemukan di daerah pesisir di seluruh dunia, dari Karibia hingga Jepang, dan bahkan kawasan yang jauh dari daratan seperti Palung Mariana di tengah Samudera Pasifik. Sisa sisa paling awal telah berumur sekitar 23 juta tahun, yang berarti spesies tersebut telah hidup lebih dari 20 juta tahun secara total.
Selama bertahun tahun perubahan iklim telah dianggap sebagai alasan utama mengapa Megalodon menjadi punah. Bumi telah berada pada era pendinginan mulai 15 juta tahun yang lalu, dengan suhu global yang menurun hingga mencapai puncaknya pada zaman es terakhir yang dimulai 2,5 juta tahun yang lalu. Hal ini menyebabkan para ilmuwan berteori bahwa Megalodon tidak dapat mengatasi perubahan suhu lautan dengan baik, yang membatasi populasinya di daerah tropis hingga kepunahannya.
Namun, sebuah studi baru yang dipimpin oleh Catalina Pimiento dari Institut Paleontologi dan Museum Universitas Zurich menganalisis 200 temuan Megalodon dan meneliti fosil dan ekosistem tempat hiu ini hidup, yang berkesimpulan bahwa kondisi iklim bukan penyebab utama dari kepunahan Megalodon.
Tim menemukan bahwa, dalam fase pendinginan, ada fluktuasi rata rata yang lebih tinggi dan lebih rendah selama 20 juta tahun teakhir, dan fluktuasi ini seharusnya mempengaruhi jumlah dan distribusi Megalodon jika teori iklim benar. Namun hal itu tidak terjadi.
Sebaliknya, para peneliti menemukan bahwa Megalodon tampaknya lebih berkembang secara konsisten hingga puncak kelimpahan mereka selama kala Miosen Tengah hingga Akhir, sekitar 10 sampai 5 juta tahun yang lalu, setelah itu, spesies ini mulai menurun hingga punah.
Apa yang mungkin terjadi pada kala Miosen Akhir, adalah hilangnya banyak spesies paus balin berukuran kecil hingga sedang dan munculnya beberapa predator baru seperti paus orca. Kemunculan predator baru ini membuat kompetisi antara Megalodon dengan paus orca lainnya menjadi semakin kuat untuk mendapatkan mangsa yang sama.
Megalodon tampaknya sangat bergantung pada paus yang bergerak lambat sebagai makanannya. Mereka mengalami keragaman besar besaran selama kala Miosen, dengan lebih banyak spesies yang diketahui dari fosil pada waktu itu dibandingkan dengan jumlah yang hidup hari ini.
Namun, perubahan permukaan laut dan distribusi nutrisi di lautan sekitar 2 hingga 3 juta tahun yang lalu dengan permulaan zaman es terakhir, yang menyebabkan kepunahan banyak spesies mamalia laut. Beberapa diantaranya bermigrasi ke wilayah kutub dimana Megalodon tidak bisa mengikutinya. Hal itu menyebabkan kekurangan makanan diantara Megalodon, hingga akhirnya beberapa Megalodon menjadi canibal dan memangsa sesamanya.
Munculnya nenek moyang paus pembunuh (orca) mungkin merupakan penyebab terakhir dari kepunahan Megalodon. Sama seperti keturunan modern mereka, orca prasejarah beradaptasi dengan baik terhadap berbagai kondisi di lautan, dari daerah tropis hingga kutub, karena metabolisme mamalia laut yang memiliki lemak pada permukaan kulit. Karena lebih kecil, mereka juga dapat bertahan dengan mangsa yang berukuran lebih kecil daripada Megalodon.
Penurunan populasi Megalodon mulai menyebabkan perubahan signifikan dalam ekosistem dunia, ukuran rata rata paus balin meningkat pesat, karena mereka tidak memiliki predator utama yang mengendalikan mereka, yang membuat mereka berkembang menjadi berukuran raksasa seperti paus biru yang diketahui saat ini. Dan sepupu Megalodon yang lain seperti Hiu Putih Besar dapat berkembang pesat dan menempati kekosongan relung ekologis akibat penurunan populasi Megalodon.
Kombinasi dari faktor faktor ini mungkin secara tidak langsung berhubungan dengan pendinginan kondisi bumi saat itu. Tampaknya terlalu berlebihan jika mengatakan Megalodon punah karena kondisi iklim, dan bahwa Megalodon punah karena kekurangan makanan.
Komentar
Posting Komentar